قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَا أَوْلَى
النَّاسِ بِعِيسَى ابْنِ مَرْيَمَ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ
وَالْأَنْبِيَاءُ إِخْوَةٌ لِعَلَّاتٍ أُمَّهَاتُهُمْ شَتَّى وَدِينُهُمْ
وَاحِدٌ
Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, "
Aku adalah
orang yang paling dekat dan paling mencintai Isa bin Maryam di dunia
maupun di akhirat. Para nabi itu adalah saudara seayah walau ibu mereka
berlainan, dan agama mereka adalah satu."
(HR. Bukhari dalam Kitab Ahadits al-Anbiya’, lihat Fath al-Bari [6/550].
Diriwayatkan pula oleh Muslim dalam Kitab al-Fadha’il dengan redaksi
yang agak berbeda)
هُوَ ٱجۡتَبَٮٰكُمۡ وَمَا جَعَلَ عَلَيۡكُمۡ فِى ٱلدِّينِ مِنۡ حَرَجٍ۬ۚ مِّلَّةَ أَبِيكُمۡ إِبۡرَٲهِيمَۚ هُوَ سَمَّٮٰكُمُ ٱلۡمُسۡلِمِينَ مِن قَبۡلُ وَفِى هَـٰذَا لِيَكُونَ ٱلرَّسُولُ شَهِيدًا عَلَيۡكُمۡ وَتَكُونُواْ شُہَدَآءَ عَلَى ٱلنَّاسِۚ
"Dia telah memilih kamu (Muhammad) dan Dia sekali-kali tidak menjadikan
untuk kamu dalam agama suatu kesempitan. (Ikutilah) agama orang tuamu
Ibrahim. Dia (Allah) telah menamai kamu sekalian orang-orang Muslim dari
dahulu, dan (begitu pula) dalam (Al Quran) ini, supaya Rasul itu
menjadi saksi atas dirimu dan supaya kamu semua menjadi saksi atas
segenap manusia."
[QS Al-Hajj(22):78]
***
Muhammad ﷺ Penutup Para Nabi dan Hubungan Dakwahnya dengan Dakwah Samawiyah Terdahulu
Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam adalah penutup para Nabi. Tidak
ada Nabi sesudahnya. Ini telah disepakati oleh kaum Muslimin dan
merupakan salah satu “aksioma” Islam.
Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
“Perumpamaan aku dengan Nabi sebelumku ialah seperti seorang lelaki
yang membangun sebuah bangunan kemudian ia memperindah dan mempercantik
bangunan tersebut kecuali satu tempat batu bata di salah satu sudutnya.
Ketika orang-orang mengitarinya, mereka kagum dan berkata, ‘Amboi, jika
batu bata ini diletakkan?’ Akulah batu bata itu dan aku adalah penutup
para Nabi.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Hubungan antara dakwah Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam dan dakwah para Nabi terdahulu berjalan di atas prinsip
ta’kid (penegasan) dan
tatmim (penyempurnaan) sebagaimana disebutkan dalam hadits di atas.
Dakwah para Nabi didasarkan pada dua asas. Pertama, aqidah. Kedua, syariat dan akhlak.
Aqidah mereka sama; dari Nabi Adam ‘alaihis salam sampai kepada penutup
para Nabi (Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam). Esensi aqidah mereka
ialah iman kepada wahdaniyah Allah. Menyucikan Allah dari segala
perbuatan dan sifat yang tidak layak bagi-Nya. Beriman kepada hari
akhir, hisab, neraka, dan surga. Setiap Nabi mengajak kaumnya untuk
mengimani perkara tersebut. Masing-masing dari mereka datang sebagai
pembenaran atas dakwah sebelumnya sebagai kabar gembira akan bi’tsah
Nabi sesudahnya. Demikianlah, bi’tsah mereka saling menyambung kepada
berbagai kaum dan umat. Semuanya membawa hakikat yang diperintahkan
untuk menyampaikan kepada manusia, yaitu
dainunah lillahi wahdah (tunduk patuh kepaa Allah semata). Inilah yang dijelaskan Allah dengan firman-Nya,
“Dia telah mensyariatkan bagi kamu tentang agama apa yang telah
diwasiatkan-Nya kepada Nuh, dan apa yang telah Kami wahyukan kepadamu,
dan apa yang telah Kami wasiatkan kepada Ibrahim, Musa dan Isa, yaitu
tegakkan agama, dan janganlah kamu berpecah belah tentangnya.” (Asy
Syura’ [42]: 13)
Tidak mungkin akan terjadi perbedaan aqidah di antara dakwah-dakwah para Nabi karena masalah aqidah termasuk
ikhbar
(pengabaran). Pengabaran tentang sesuatu tidak mungkin akan berbeda
antara satu pengabar dan pengabar yang lain jika kita yakini kebenaran
khabar yang di bawahnya. Tidak mungkin seorang Nabi diutus untuk
menyampaikan kepada manusia bahwa Allah adalah salah seorang dari yang
tiga (Mahasuci Allah dari apa yang mereka katakan). Setelah itu, diutus
Nabi lain yang datang sesudahnya untuk menyampaikan kepada manusia bahwa
Allah Mahasatu, tiada sekutu bagi-Nya, padahal masing-masing dari kedua
Nabi tersebut sangat jujur, tidak akan pernah berkhianat tentang apa
yang dikabarkannya.
Dalam masalah syariat, yaitu penetapan hukum yang bertujuan untuk
mengatur kehidupan masyarakat dan pribadi, telah terjadi perbedaan
menyangkut cara dan jumlah antara satu Nabi dan Nabi yang lainnya karena
syariat termasuk dalam kategori
insya’, bukan
ikhbar
sehingga berbeda dengan masalah aqidah. Selain itu, perkembangan zaman
dan perbedaan umat atau kaum akan berpengaruh terhadap perkembangan
syariat dan perbedaannya karena prinsip penetapan hukum didasarkan pada
tuntunan kemaslahatan di dunia dan akhirat. Di samping bi’tsah setiap
Nabi sebelum Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam adalah khusus bagi
umat tertentu, bukan untuk semua manusia, hukum-hukum syariatnya hanya
terbatas pada umat tertentu, sesuai dengan kondisi umat tersebut.
Musa ‘alaihis salam misalnya, diutus kepada bani Israel. Sesuai
dengan kondisi bani Israel pada waktu itu. Mereka memerlukan syariat
yang ketat yang seluruhnya didasarkan atas asas ‘azimah, bukan rukhshah.
Setelah beberapa kurun waktu, diutuslah Nabi
Isa ‘alaihis salam
kepada mereka dengan membawa syariat yang agak longgar bila dibandingkan
dengan syariat yang dibawa oleh Nabi Musa. Perhatikan firman Allah
melalui Isa ‘alaihis salam yang ditujukan kepada bani Israel,
“…Dan (aku datang kepadamu) membenarkan Taurat yang datang sebelumku,
dan untuk menghalalkan bagimu sebagian yang telah diharamkan untukmu
….” (Ali Imran [3]: 50)
Nabi Isa ‘alaihis salam menjelaskan kepada mereka bahwa menyangkut
masalah-masalah aqidah, ia hanya membenarkan apa yang tertera di dalam
kitab Taurat, menegaskan dan memperbaharui dakwah kepada mereka. Jika
menyangkut masalah syariat dan hukum halal haram, ia telah ditugaskan
untuk mengadakan beberapa perubahan, penyederhanaan, dan menghapuskan
sebagian hukum yang pernah memberatkan mereka.
Sesuai dengan ini, bi’tsah setiap Rasul membawa aqidah dan syariat.
Dalam masalah aqidah, tugas setiap Nabi tidak lain hanyalah menegaskan
kembali (ta’kid) aqidah yang sama yang pernah dibawa oleh para Rasul
sebelumnya, tanpa perubahan atau perbedaan sama sekali.
Dalam masalah syariat, setiap Rasul menghapuskan syariat sebelumnya,
kecuali hal-hal yang ditegaskan oleh syariat yang datang kemudian, atau
didiamkannya. Ini sesuai dengan madzhab orang yang mengatakan bahwa
syariat umat sebelum kita adalah syariat bagi kita (juga) selama tidak
ada (nash) yang dapat menghapuskannya.
Dari uraian di atas, jelas tidak ada sesuatu yang disebut orang dengan
Adyan Samawiyah (agama-agama samawi/langit). Yang ada hanyalah
Syariat-Syariat Samawiyah
(syariat-syariat langit), di mana setiap syariat yang baru menghapuskan
syariat sebelumnya, sampai datang syariat terakhir yang dibawa oleh
penutup para Nabi dan Rasul.
Ad Din Al Haq hanya satu, Islam. Semua Nabi berdakwah kepadanya
dan memerintahkan kepada manusia untuk tunduk (dainunah) kepada-Nya,
sejak Nabi Adam sampai Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam.
Nabi Ibrahim, Isma’il, dan Ya’qub diutus dengan membawa Islam. Firman Allah,
وَمَن يَرۡغَبُ عَن مِّلَّةِ إِبۡرَٲهِـۧمَ إِلَّا مَن سَفِهَ نَفۡسَهُ ۥۚ
وَلَقَدِ ٱصۡطَفَيۡنَـٰهُ فِى ٱلدُّنۡيَاۖ وَإِنَّهُ ۥ فِى ٱلۡأَخِرَةِ
لَمِنَ ٱلصَّـٰلِحِينَ (١٣٠) إِذۡ قَالَ لَهُ ۥ رَبُّهُ ۥۤ أَسۡلِمۡۖ
قَالَ أَسۡلَمۡتُ لِرَبِّ ٱلۡعَـٰلَمِينَ (١٣١) وَوَصَّىٰ بِہَآ
إِبۡرَٲهِـۧمُ بَنِيهِ وَيَعۡقُوبُ يَـٰبَنِىَّ إِنَّ ٱللَّهَ ٱصۡطَفَىٰ
لَكُمُ ٱلدِّينَ فَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنتُم مُّسۡلِمُونَ (١٣٢
“Dan tidak ada yang benci kepada agama Ibrahim, melainkan orang-orang
yang memperbodoh dirinya sendiri, dan sungguh Kami telah memilihnya di
dunia, dan sesungguhnya dia di akhirat benar-benar termasuk orang-orang
yang shaleh. Ketika Rabbnya berfirman kepadanya, ‘Tunduk patuhlah!’
Ibrahim menjawab, ‘Aku tunduk patuh kepada Rabb semesta alam.’ Dan
Ibrahim telah mewasiatkan ucapan itu kepada anak-anaknya, demikian pula
Nabi Ya’qub. (Ibrahim berkata), ‘Hai anak-anakku! Sesungguhnya, Allah
telah memilih agama ini bagimu, maka janganlah kamu mati kecuali dalam
memeluk Islam.’” (al-Baqarah [2]: 130-132)
Musa ‘alaihis salam diutus kepada bani Israel juga dengan membawa Islam.
Firman Allah tentang tukang-tukang sihir Fir’aun,
“Ahli sihir itu menjawab, ‘Sesungguhnya, kepada Rabb kamilah kami
kembali. Dan kamu tidak membalas dendam dengan menyiksa kami, melainkan
karena kami telah beriman kepada ayat-ayat Rabb kami ketika ayat-ayat
itu datang kepada kami,’ (Mereka berdua), ‘Wahai Rabb kami, limpahkanlah
kesabaran kepada kami, dan wafatkanlah kami dalam keadaan berserah diri
(kepadamu)” (al-A’raf [7]: 125-126)
Demikian pula Isa ‘alaihis salam, ia diutus dengan membawa Islam.
Firman Allah,
فَلَمَّآ أَحَسَّ عِيسَىٰ مِنۡہُمُ ٱلۡكُفۡرَ قَالَ مَنۡ أَنصَارِىٓ
إِلَى ٱللَّهِۖ قَالَ ٱلۡحَوَارِيُّونَ نَحۡنُ أَنصَارُ ٱللَّهِ ءَامَنَّا
بِٱللَّهِ وَٱشۡهَدۡ بِأَنَّا
مُسۡلِمُونَ
“Maka ketika Isa mengetahui keingkaran dari mereka (bani Israel),
berkatalah ia, ‘Siapakah yang akan menjadi penolongku untuk (menegakkan
agama Allah)’ Para Hawariyyun (sahabat-sahabat setia) menjawab, ‘Kamilah
penolong (agama) Allah. Kami beriman kepada-Nya, dan saksikanlah bahwa
sesungguhnya kami adalah orang-orang Muslim.’” (Ali Imran [3]: 52)
Mungkin timbul pertanyaan, mengapa orang-orang yang menganggap dirinya
pengikut Musa ‘alaihis salam menganut aqidah yang berbeda dari aqidah
tauhid yang dibawa oleh para Nabi? Mengapa orang-orang yang menganggap
dirinya pengikut Isa ‘alaihis salam meyakini akidah lain?
Jawaban atas pertanyaan ini terdapat dalam firman Allah,
“Sesungguhnya, agama (yang diridhai) di sisi Allah hanyalah Islam, tiada
berselisih orang-orang yang telah diberi al-Kitab kecuali sesudah
datang pengetahuan kepada mereka, karena kedengkian (yang ada) di antara
mereka….” (Ali Imran [3]: 19)
“Dan mereka (Ahli Kitab) tidak berpecah belah melainkan sesudah
datangnya pengetahuan kepada mereka karena kedengkian di antara mereka.
Kalau tidaklah karena suatu ketetapan yang telah ada dari Rabbmu
dahulunya (untuk menangguhkan siksa) sampai kepada waktu yang telah
ditentukan, pastilah mereka telah dibinasakan. Dan sesungguhnya
orang-orang yang diwariskan kepada mereka al-Kitab (Taurat dan Injil)
sesudah mereka, benar-benar dalam keraguan yang mengguncangkan tentang
kitab itu,” (Asy Syura’ [42]: 14)
Dengan demikian, semua Nabi diutus dengan membawa Islam yang merupakan
agama di sisi Allah. Para Ahli Kitab mengetahui kesatuan agama ini.
Mereka juga mengetahui bahwa para Nabi diutus untuk saling membenarkan
dalam hal agama yang diutusnya. Mereka (para Nabi) tidak pernah berbeda
dalam masalah aqidah. Akan tetapi, para Ahli Kitab sendiri terpecah
belah dan berdusta atas Nabi kendatipun telah datang pengetahuan tentang
hal itu kepada mereka karena kedengkian di antara mereka, sebagaimana
telah dijelaskan oleh Allah di atas.[]
__
Sumber: SIRAH NABAWIYAH, DR Muhammad Sa'id Ramadhan Al-Buthy